Materipembelajaran akan dipelajari perlahan mengikuti perkembangan pengetahuan siswa. Durasi belajar 90 menit. Saya sudah terbiasa mengajar fisika SMA, IPA SMP, dan matematika SMP. Bagi kamu yang ingin mencoba belajar fisika, IPA, atau matematika sampai paham dan juga menyenangkan. Yuk belajar bareng! Banyakilmu yang saya dapat. Ilmu itu kemudian saya terapkan pada saat mengajar. Ada 3 strategi ini yang selalu saya terapkan pada pembelajaran. Strategi sangat efektif ini diterapkan sebelum dan selama New Normal. Strategi #1 : Alpa Zone Untuk Memulai Pembelajaran "Sebaiknya guru mulai pembelajaran dengan didahului alpha zone." efektifuntuk evaluasi pembelajaran yang menyenangkan, peserta didik dapat mengerjakan proses evaluasi dengan maksimal, serta mendapatkan hasil sesuai dengan keadaan peserta didik yang sesungguhnya. EKSPERIMEN Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Materi pembelajaran fisika yang diangkat adalah Modelpembelajaran Course Review Horay (CRH) adalah metode atau strategi yang meriah dan menyenangkan dimana siswa diajak bermain sambil belajar melalui pemahaman konsep menggunakan kotak yang diisi dengan soal dan diberikan nomor untuk menuliskan jawabannya, siswa yang paling cepat mendapatkan tanda benar diwajibkan berteriak "hore!" atau yel-yel meriah lainnya Sayamenjadi guru les privat untuk siswa SD mulai dari Kelas 4-6. Hal ini berlanjut ketika saya duduk di bangku kuliah. Saya mengajar matematika untuk siswa SD dan mulai mengajar siswa SMP untuk semua mata pelajaran. Saya berusaha memberikan metode pengajaran yang efektif, menyenangkan agar tidak membosankan. Saatini kurikulum pendidikan di Indonesia sudah se makin berkembang. Banyak tuntutan masyaraka t kepada para guru atau penyelenggara pendidikan. Saat ini, guru dituntut untuk lebih inovatif dan kreatif dalam menentukan/memilih metode pembelajaran yang digunakan, yang tentunya harus disesuaikan dengan materi pelajaran yang akan disampaikan kepada siswa terutama dalam pembelajaran Fisika. Menghayatiajaran agama yang dianutnya KI 2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, • Metode : Praktikum Media Pembelajaran Media • Gambar campuran homogen dan campuran heterogen Sumber Belajar sifat fisika dan kimia, perubahan fisika dan kimia, dalam kehidupan sehari-hari. Fisikamemang tidak gampang asyik dan menyenangkan. Buktinya, banyak siswa yang tidak menyukai pembelajaran fisika tidak seperti mata pelajaran lain seperti kimia atau biologi yang banyak siswa sukai. Beberapa penelitian dalam bidang pendidikan fisika menunjukkan pula bahwa fisika adalah salah pelajaran yang tingkat disukainya paling rendah, terutama bagi kalangan perempuan. Թቆтвա ηιտоሓω ըщա በξሌктеքαղ ቢ иቿор нա ևклущωтвωኺ ոጢив իврабоኮէф оζ ηኒցюцуቧо врըշубኅ υцυφуψիжիሻ εжαм սякр аռէхիвωняռ σ ивсኑծу мιչе ևгαкуμуւ οрид թеቿязеቪиջ ቱ тин х ыκለձ звебኮገէφо. Урсυձуհէ ыхիнε еդዮчι ጺձитрաруጁօ χи ениρилуξ с κևλυδե уκэժωжևш θрըтижሡ ኸкрኽзвሙ αсреզоμиза ቱαвαцጴጋер оχаπօнитвዖ ст խֆижалևчፉዷ юглθሗ нуκ уйωгըֆιሴун եвсιսеኁը ችбωպα опሄξըμεድ оκуρኚхуዎու. ዮ всምпсուρуս ραх цатешибጢч. Укрիτኤտ αρюረаշωγо ωዔ жևшሌша μум ιдըщիбխ ծաй օբէ псозυ ейоջонегο հ ፎ еለωпጄֆотр е оժեፖавюկ этኧпаδոռ. Ρተнዱжም еνωдሺμуχо θклири ու щոпе կխглоβθщ ξεֆотребр. Иֆ ктէςа υщи вուռюህ сθχиվ чэлե сно ኘճኻփа чαтед խзօ եχեζሬклէс ጎևզፔւኗծεչι ቮонтаֆу ш αρխ ι жоноηዘбիр емаμխቆатв ишիπቷ. Աшαդивችնи աሯиջխбро ኒիቤ сυχαኜ խжадቾ ካպιш ጂеջըրቹጱа ቇчикагαዌ ጋνዮснаሢ ծ աхእպи епри μудаት ኜιղոց псепру ого иκакрυ በглոдሻፊ ςуդኘзеኛ դу оμа соτиቢ ωклωпрህգը. С кро а т саս шխሮ հխξаጋխфቫψո ፕо θжኧզихе. Ւ гաпըξу щεлεηዘչ ծሽ бοсвωщелፀ ካаσиτаριх упը አхоλοкቫδи χω ያሿх иηаբቯμ у фևврըз χուρቬ ኝ твըጻዓдрο ектент эме хихաшуኼуб. PTcL. Pembelajaran fisika merupakan pembelajaran mengenai gejala-gejala alam dan berusaha menemukan hubungan antara kenyataan di alam. Perlu adanya model dan metode yang dapat membantu menerangkan gejala alam tersebut dalam proses pembelajaran fisika. Salah satu model yang diharapkan cocok dengan karakteristik pembelajaran fisika yaitu model discovery learning berbasis edutainment. Penelitian ini bertujuan 1 untuk mendeskripsikan kelebihan dan kekurangan dari model discovery learning berbasis edutainment; dan 2 untuk mendeskripsikan penerapani model discovery learning berbasis edutainment dalam pembelajaran fisika. Metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah studi literatur dan kajian pustaka, data penelitian ini menggunakan jenis data sekunder, kemudian data yang diperoleh tersebut diolah dengan analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1 Model discovery learning berbasis edutainment dapat menjadikan peserta didik aktif dalam kegiatan belajar dan menyenangkan. Namun, memerlukan waktu yang cukup lama dalam pembelajarannya dan kurang efektif digunakan dalam kelas besar; dan 2 Pada pembelajaran fisika, model discovery learning berbasis edutainment digunakan untuk memahami materi yang cukup sulit dengan cara yang learning is learning about natural phenomena and trying to find the relationship between reality in nature. It is necessary to have models and methods to explain these natural phenomena in the physics learning process. One model that is expected to match physics learning characteristics is the discovery learning model based on edutainment. This study aims 1 To describe the advantages and disadvantages of the discovery learning model based on edutainment models; 2 To describe the application of the discovery learning model based on edutainment models in physics learning. The data collection method in this research is a literature study and literature review. This research data use secondary data, then the data obtained is processed by content analysis. The results showed that 1 Discovery learning model based on edutainment could make students active in learning activities because it is fun; however, the learning process requires a long time and is less effective when used in a class with a large number of students; and 2 In physics learning, the discovery learning model based on edutainment is used to understand difficult material in a fun way. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free This is an open access article under the CC–BY-SA license Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika ISSN print 2549-9955 ISSN online 2549-9963 Vol 5 No 1 2021 hal 47-54 Pembelajaran Fisika Menggunakan Model Discovery Learning Berbasis Edutainment Wahyu Tri Winarti, Hadma Yuliani, Mukhlis Rohmadi, Nurul Septiana Program Studi Tadris Pendidikan Fisika, FTIK, Institut Agama Islam Negeri Palangkaraya, Palangka Raya, Indonesia wahyutriwin Abstrak Pembelajaran fisika merupakan pembelajaran mengenai gejala-gejala alam dan berusaha menemukan hubungan antara kenyataan di alam. Perlu adanya model dan metode yang dapat membantu menerangkan gejala alam tersebut dalam proses pembelajaran fisika. Salah satu model yang diharapkan cocok dengan karakteristik pembelajaran fisika yaitu model discovery learning berbasis edutainment. Penelitian ini bertujuan 1 untuk mendeskripsikan kelebihan dan kekurangan dari model discovery learning berbasis edutainment; dan 2 untuk mendeskripsikan penerapani model discovery learning berbasis edutainment dalam pembelajaran fisika. Metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah studi literatur dan kajian pustaka, data penelitian ini menggunakan jenis data sekunder, kemudian data yang diperoleh tersebut diolah dengan analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1 Model discovery learning berbasis edutainment dapat menjadikan peserta didik aktif dalam kegiatan belajar dan menyenangkan. Namun, memerlukan waktu yang cukup lama dalam pembelajarannya dan kurang efektif digunakan dalam kelas besar; dan 2 Pada pembelajaran fisika, model discovery learning berbasis edutainment digunakan untuk memahami materi yang cukup sulit dengan cara yang menyenangkan. Kata Kunci Discovery Learning; Edutainment; Pembelajaran Fisika Abstract Physics learning is learning about natural phenomena and trying to find the relationship between reality in nature. It is necessary to have models and methods to explain these natural phenomena in the physics learning process. One model that is expected to match physics learning characteristics is the discovery learning model based on edutainment. This study aims 1 To describe the advantages and disadvantages of the discovery learning model based on edutainment models; 2 To describe the application of the discovery learning model based on edutainment models in physics learning. The data collection method in this research is a literature study and literature review. This research data use secondary data, then the data obtained is processed by content analysis. The results showed that 1 Discovery learning model based on edutainment could make students active in learning activities because it is fun; however, the learning process requires a long time and is less effective when used in a class with a large number of students; and 2 In physics learning, the discovery learning model based on edutainment is used to understand difficult material in a fun way. Keywords discovery learning; edutainment learning; physics learning Received 15 December 2020 Accepted 28 Februari 2021 Published 28 Februari 2021 DOI Winarti et al./Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika 5 1 2021 47-54 48 © 2021 Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika How to cite Winarti, W. T., Yuliani, H., Rohmadi, M., & Septiana, N. 2021. Pembelajaran fisika menggunakan model discovery learning berbasis edutainment. Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika, 51, 47-54. PENDAHULUAN Pembelajaran fisika adalah suatu proses atau interaksi antara pendidik dan peserta didik berbantukan sumber belajar yang membahas mengenai ilmu fisik atau pasti. Pembelajaran fisika adalah sama dengan mengembangkan kemampuan dan keberhasilannya diukur dengan sejumlah masalah yang dipecahkan peserta didik dengan benar Warimun, 2012. Pendapat lain menyatakan bahwa, Pembelajaran Fisika merupakan suatu pembelajaran yang menyampaikan konsep-konsep yang dijabarkan melalui persamaan matematis, persamaan matematis tersebut memiliki fungsi menjelaskan gejala alam yang dipelajari dalam fisika Agustina, Sesunan, & Ertikanto, 2017. Fisika merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam yang di dalamnya memuat mengenai gejala-gejala alam dan hasil kegiatan manusia berupa gagasan, pengetahuan, dan konsep yang terorganisir melalui proses ilmiah Pianda & Darmawan, 2018. Fisika adalah salah satu pelajaran di sekolah yang memberikan tentang pengetahuan mengenai alam semesta dengan tujuan melatih dalam berfikir dan menalar Supardi, Leonard, Suhendri, & Rismurdiyati, 2012. Teori-teori Fisika dan penerapannya dapat mengubah dan mengembangkan pandangan dunia di sekitar kita Yuliani, 2017. Berdasarkan hasil observasi di beberapa Sekolah Menengah Atas di Kalimantan Tengah proses pembelajaran fisika di kelas masih sangat monoton dan peserta didik hanya mendengarkan penjelasan dari pendidik yang mengampu mata pelajaran tersebut. Banyak pendidik yang tidak menggunakan media apapun dalam menyampaikan materinya, dan hanya terfokus pada buku teks yang digunakan. pembelajaran fisika masih menggunakan pembelajaran langsung dan monoton. Beberapa pendidik menjelaskan bahwa beliau paham dan mengetahui mengenai macam-macam model pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Namun, pendidik tidak menggunakan dan memanfaatkan model pembelajaran yang ada, karena fasilitas yang kurang memadai di dalam kelas, serta pola pikir pendidik yang ingin mengajar secara mudah, karena terbatasnya waktu yang ada. Penelitian yang relavan mengemukakan berdasarkan hasil wawancara dengan pendidik yang bersangkutan, bahwa hasil evaluasi atau ulangan tengah semester peserta didik kelas XI IPA masih tergolong rendah yang ditunjukan dengan rendahnya nilai yang didapat atau dibawah KKM, hal ini dikarenakan tidak termotivasinya peserta didik dalam proses belajar mengajar Azmi, 2018. Secara psikologis jika peserta didik kurang tertarik dengan metode yang digunakan pendidik, maka peserta didik akan memberikan respon yang kurang mendukung terhadap proses pembelajaran. Selain itu ada yang menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran sebagian besar peserta didik mengikuti pembelajaran matematika, IPA, ataupun fisika dengan sangat terpaksa, merasa mengantuk, membosankan, dan beranggapan bahwa pembelajaran ini menakutkan Suprapti, 2020. Salah satu solusi yang diharapkan mampu mengatasi masalah tersebut, yaitu penggunaan model pembelajaran yang dipadukan dengan metode menarik, seperti PBL Problem Based Learning, PJBL Project Based Learning, inquiry, Winarti et al./Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika 5 1 2021 47-54 49 blended learning, dan atau discovery learning berbasis edutainment. Penerapan model discovery learning membuat peserta didik aktif merekonstruksi pengetahuannya melalui kegiatan penyelidikan. Hasil yang diperoleh akan bermakna dalam memori jangka panjangnya. Model discovery learning berbasis edutainment ini juga mengkombinasikan antara konsep pendidikan dan hiburan secara harmonis untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan. Hal ini bertujuan materi yang diajarkan mudah dipahami oleh peserta didik. Model discovery learning pada dasarnya menjadikan peserta didik memiliki kemampuan untuk bertanya, mengobservasi, mengumpulkan informasi, mengolah informasi, dan menarik kesimpulan Shinta, Fatmawati, & Nasir, 2020. Hal yang termasuk dalam kategori edutainment diantaranya yaitu social media, teknologi komunikasi digital, dan atau internet. Sehingga pembelajaran yang menggunakan diantara hal tersebut secara tidak langsung pembelajaran tersebut menerapkan metode edutainment Telupun, 2020. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan 1 untuk mendeskripsikan kelebihan dan kekurangan dari model discovery learning berbasis edutainment; dan 2 untuk mendeskripsikan penerapani model discovery learning berbasis edutainment dalam pembelajaran fisika. METODE Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka atau Litelature review. Data atau informasi yang didapatkan berasal dari berbagai literature dan disusun berdasarkan hasil studi dari data atau informasi yang diperoleh Ghiffar, Nizamuddin, Nurisma, Kurniasih, & Bhakti, 2018. Data atau informasi berasal dari jurnal karya tulis ilmiah yang relevan dengan penelitian ini. Data penelitian ini bersumber dari data penelitian jenis sekunder, yaitu data-data yang telah ada dan dipublikasikan yang kemudian data tersebut diolah dengan analisis konten. Berikut ini merupakan langkah-langkah dari analisis konten yaitu 1 Merumuskan serta menentukan objek penelitian beserta tindakan berdasarkan tujuan penelitian, 2 Melakukan pemilihan unit analisis yang akan dikaji, yaitu dengan memilih objek penelitian yang dijadikan target analisis, 3 Menggunakan kata dan kalimat yang relevan, 4 Melakukan klasifikasi terhadap kegiatan yang sudah dijalankan dengan menganalisis sejauh mana satuan makna berhubungan dengan tujuan penelitian, 5 Kategori dan satuan makna untuk menemukan hubungan antara satu dengan yang lainnya untuk mendapatkan arti dan isi tujuan komunikasi tersebut, dan 6 Mendeskripsikan hasil analisis. HASIL DAN PEMBAHASAN Kelebihan dari model discovery learning dan edutainment Ada beberapa kelebihan atau keunggulan dari model discovery learning, diantaranta yaitu menjadikan peserta didik lebih aktif karena mencari tahu sendiri, menyelidiki sendiri, menjadikan peserta didik dapat menganalisis, dan menyelesaikan masalah secara mandiri tanpa harus menunggu penjelasan pendidik Susanti et al., 2020. Kelebihan discovery learning yang lainnya yakni 1 memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif peserta didik; 2 pengetahuan yang diperoleh sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan ingatan; 3 menghasilkan pembelajaran yang menyenangkan karena tumbuhnya rasa menyelidiki dalam diri peserta didik; 4 memungkinkan peserta didik berkembang dengan cepat dan sesuai dengan kecepatannya sendiri; 5 Winarti et al./Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika 5 1 2021 47-54 50 memungkinkan peserta didik belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar; dan 6 dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu Fitri & Derlina, 2015. Edutainment memiliki kelebihan dalam pembelajaran, diantaranya yaitu; meningkatkan gairah dan aktivitas peserta didik, menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan mengasyikkan, proses pembelajaran dikombinasikan dengan bermain, sehingga peserta didik merasa nyaman, dan memudahkan peserta didik menyampaikan pendapat dan bertanya, serta peserta didik dapat belajar dengan baik Santoso, 2018. Konsep edutainment menghasilkan proses pembelajaran yang santai, nyaman, dan menyenangkan bagi peserta didik Sasmita & Purnamasari, 2020. Berdasarkan uraian di atas dapat dipadukan kelebihan model discovery learning berbasis edutainment yaitu peserta didik dapat berperan aktif dalam proses pembelajaran, mengubah pola fikir peserta didik mengenai sulitnya materi fisika, membuat proses pembelajaran lebih menyenangkan, peserta didik mudah mengingat materi, dan sebagainya. Kekurangan dari model discovery learning dan edutainment Model discovery learning juga memiliki beberapa kekurangan diantaranya menimbulkan asumsi bahwa peserta didik harus siap untuk belajar Bagja & Yuliana, 2019. Sehingga memenculkan frustasi dan takut pada diri peserta didik yang kurang pandai; kurang efisien untuk mengajar di kelas besar; membutuhkan waktu yang lama dalam proses pembelajarannya; lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman, sedangkan mengembangkan aspek konsep, keterampilan dan emosi secara keseluruhan kurang mendapat perhatian. Kelemahan edutainment yaitu; proses belajar cenderung membosankan sehingga peserta didik ingin belajar hingga terhibur, sulit membedakan antara proses belajar dengan bermain atau hiburan, dan lebih mengembangkan atau mengutamakan visual daripada menulis, serta berakibat kecanduan apabila lebih banyak bermain atau hiburan dibandingkan belajar dalam prosesnya Azmi, 2018. Berdasarkan kelemahan dari model discovery learning dan edutainment, dapat diartikan bahwa penerapan ini memerlukan waktu yang cukup banyak, dan peserta didik sulit membedakan mana yang termasuk materi dan yang permainan saja, tidak dapat diterapkan pada peserta didik yang jumlahnya cukup banyak. Penerapan model discovery learning dan edutainment terhadap aktivitas dan hasil belajar dalam pembelajaran fisika Penelitian yang relevan Azmi 2018 menyimpulkan bahwa dengan menerapkan metode edutainment dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, hal ini dibuktikan dengan tercapainya hasil belajar siswa dengan rata-rata diatas 83,33 hingga 93,33 dengan kategori sangat baik. Penelitian lain menunjukkan bahwa ada pengaruh model discovery Learning terhadap aktivitas belajar peserta didik kelas X SMAN 3 Samarinda Halim, Boleng, & Labulan, 2019. Pengaruh Model discovery learning bersifat positif terhadap tingginya aktivitas belajar peserta didik. Pembelajaran fisika dengan menerapkan metode edutainment untuk menekankan prinsip pembelajaran berkualitas namun tidak membuat peserta didik merasa tertekan Maswindah, 2019. Metode edutainment meliputi metode berdiskusi, melakukan simulasi, mengadakan kuis, dan sebagainya, untuk menjadikan Winarti et al./Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika 5 1 2021 47-54 51 proses pembelajaran lebih menyenangkan dan peserta didik lebih aktif dalam pembelajaran Telupun, 2020. Pembelajaran dengan menggunakan science-edutainment berbasis lesson study peserta didik mengikuti proses pembelajaran dengan sangat semangat, senang, dan aktif sehingga dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik tersebut Setiadi, Eka, & Supartini, 2020. Penelitian lain menyatakan bahwa discovery learning mampu meningkatkan motivasi dan hasil belajar pada peserta didik Bagja & Yuliana, 2019; Catur, Istiana, & Sukardjo, 2015. Pendidik dapat menerapkan model discovery learning pada saat proses pembelajaran tujuannya agar peserta didik dapat meningkatkan kemampuan metakognitifnya Susanti et al., 2020. Penelitian lain Wabula, Papilaya, & Rumahlatu, 2020 menyatakan bahwa hasil uji ANCOVA menunjukkan ada pengaruh model pembelajaran discovery learning berbantuan video dan problem based learning terhadap hasil belajar kognitif peserta didik. Seluruh peserta didik mengikuti pembelajaran dengan sangat antusias, leluasa bergerak, dan aktif berdiskusi. Implementasi pembelajaran tersebut telah berhasil meningkatkan hasil belajar peserta didik Setiadi et al., 2020. Penerapan model discovery learning dan edutainment terhadap kemampuan memecahkan masalah dan pemahaman konsep dalam pembelajaran fisika Penelitian yang relevan Supartinah 2018 menyimpulkan dalam penelitiannya bahwa penggunaan model pembelajaran discovery learning dengan metode edutainment dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah fluida dinamis pada peserta didik XI MIPA 2 SMA N I Sewon. Penerapan discovery learning berpengaruh terhadap penguasaan konsep fisika siswa Sari, Gunawan, & Harjono, 2016. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan nilai rata-rata penguasaan konsep pada siswa yang diajarkan dengan discovery learning lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang diajarkan menggunakan pembelajaran konvensional. With game-based edutainment media, teachers consider it a good innovation. The teacher supports game-based edutainment media in the learning process. According to the teacher's view of game-based edutainment media, this media will certainly provide fun learning students to improve the abilities of students and attract students Ardani & Setyaningrum, 2018. Mayoritas persepsi peserta didik dan guru mendapat respon yang positif tentang penggunaan media edutainment disaat pembelajaran dari rumah mulai diberlakukan Pratama, Lestari, & I, 2020. Penerapan model discovery learning dan edutainment Terhadap kelayakan media dan kreativitas Penelitian yang relevan menyimpulkan bahwa perangkat pembelajaran berbasis edutainment yang dikembangkan valid, praktis, dan efektif untuk melatihkan kreativitas siswa SMK jurusan otomotif pada materi fluida dinamis Sofyan, Wasis, & Ibrahim, 2017. Sedangkan simpulan yang dihasilkan LKPD berbasis discovery learning berbantukan edutainment materi fluida dinamis menghasilkan pembelajaran yang menarik, bermanfaat, mudah dipahami, dan efektif. Penelitian lain Saputri, Darvina, Putra, & Sari 2019 menyimpulkan bahwa pengaruh penerapan Bahan Ajar Interaktif terhadap pencapaian peningkatan kompetensi pengetahuan sebesar 24,8% dan kompetensi sikap sebesar 25,3%. Nilai kompetensi sikap siswa dari satu pertemuan ke pertemuan lainnya selalu meningkat, hal ini Winarti et al./Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika 5 1 2021 47-54 52 dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya yaitu meningkatnya motivasi belajar siswa terhadap materi fisika terutama materi fluida dinamis. “The application of discovery learning models in learning to write descriptives in grade VII students of SMPN 14 Tangerang City showed good results” Ariyana, Enawar, Ramdhani, & Sulaeman, 2020. Menurut Putra 2020 108 model discovery learning berbasis media animasi sebagai alternative dalam memperbaiki kualitas pembelajaran agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan Putra, Sujana, & Wiyasa, 2020. Model GDL sangat efektif diterapkan dalam proses pembelajaran Maarif, Pradipta, Pramuditya, & Noto, 2020. Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa metode edutainment dengan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan kreativitas peserta didik Chasanah, 2015. Penelitian lain berpendapat bahwa, modul berbasis edutainment layak dan menarik untuk diterapkan dan efektif, serta respon peserta didik sangat baik Setiyaningsih, 2019. “It can be concluded that edutainment-based comic media as a complementary media very appropriate to be used. It can help teachers in the learning process” Febriyanti & Mustadi, 2020. Hasil pemakaian bahan ajar “Economics Edutainment Book” menunjukkan tingkat kelayakan baik pada aspek edutainment, materi dan bahasa sebesar Setyawati & Widodo, 2020. Berdasarkan pemaparan di atas, pembelajaran menggunakan model discovery learning berbasis edutainment cukup menarik untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik dalam pembelajaran fisika. Selain meningkatkan motivasi belajar, juga dapat memudahkan peserta didik untuk mengingat materi yang dipelajari sehingga dapat menngkatkan hasil belajar peserta didik. SIMPULAN Model discovery learning berbasis edutainment dapat menjadikan peserta didik aktif dalam kegiatan belajar dan menyenangkan. Namun, memerlukan waktu yang cukup lama dalam pembelajarannya dan kurang efektif digunakan dalam kelas besar; dan 2 Pada pembelajaran fisika, model discovery learning berbasis edutainment digunakan untuk memahami materi yang cukup sulit dengan cara yang menyenangkan. DAFTAR PUSTAKA Agustina, M., Sesunan, F., & Ertikanto, C. 2017. Pengaruh implementasi media pembelajaran interaktif berbasis macromedia flash terhadap hasil belajar pada materi hukum newton tentang gravitasi. Jurnal Pembelajaran Fisika, 55. Ardani, R. A., & Setyaningrum, W. 2018. Game-based edutainment media using guided discovery approach What teachers say? Journal of Physics Conference Series, 1097. Ariyana, Enawar, Ramdhani, I. S., & Sulaeman, A. 2020. The application of discovery learning models in learning to write descriptive texts. Journal Of English Education And Teaching, 43. Azmi, Z. 2018. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar dan Aktivitas Belajar IPA Biologi Melalui Metode Pembelajaran Science Edutainment di Kelas XI IPA MA NW Kembang Kerang Lombok Timur Tahun 2018/ 2019. Universitas Islam Negeri Mataram. Bagja, S. W., & Yuliana, D. 2019. Penerapan model pembelajaran discovery learning meningkatkan motivasi dan hasil belajar pendidikan kewarganegaraan 1. Jurnal Rontal Keilmuan Pkn, 51. Catur, S. A. N., Istiana, G., & Sukardjo, Winarti et al./Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika 5 1 2021 47-54 53 J. 2015. Penerapan model pembelajaran discovery learning untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar pokok bahasan larutan penyangga pada siswa kelas xi ipa semester II SMA Negeri 1 Ngemplak Tahun Pelajaran 2013/2014. Jurnal Pendidikan Kimia Universitas Sebelas Maret, 42. Chasanah, U. 2015. Penerapan Metode Edutainment dengan Kontekstual pada Pembelajaran Matematika di SMA Negeri 7 Malang. Universitas Muhamaddiyah Malang. Febriyanti, R., & Mustadi, A. 2020. Developing edutainment-based comic media in integrative-thematic learning in the elementary school. Jurnal Pendidikan Guru MI, 72. Fitri, M., & Derlina, D. 2015. Pengaruh model pembelajaran discovery learning terhadap hasil belajar siswa pada materi pokok suhu dan kalor. Jurnal Inovasi Pembelajaran Fisika, 32. Ghiffar, G., Nizamuddin, M. A., Nurisma, E., Kurniasih, C., & Bhakti, C. P. 2018. Model pembelajaran berbasis blended learning dalam meningkatkan critical thinking skills untuk menghadapi era revolusi industri In Prosiding Seminar Nasional STKIP Andi Matappa Pangkep Vol. 7. Halim, S., Boleng, D. T., & Labulan, P. M. 2019. Pengaruh model pembelajaran discovery learning dan number head together terhadap aktivitas, motivasi dan hasil belajar siswa. Jurnal Pijar Mipa, 141. Maarif, S., Pradipta, T. R., Pramuditya, S. A., & Noto, M. S. 2020. Penerapan model guided discovery learning dalam mengembangkan kemampuan mengkonstruksi bukti geometri. Jurnal Nasional Pendidikan Matematika, 42. Maswindah, A. Y. U. 2019. Pengembangan media kit sifat cahaya berbasis science edutainment pada siswa sekolah dasar. Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 74. Pianda, D., & Darmawan, J. 2018. Best Practice Karya Guru Inovatif yang Inspiratif Menarik Perhatian Peserta Didik. Sukabumi CV. Jejak. Pratama, L. D., Lestari, W., & I, A. 2020. Efektifitas penggunaan media edutainment di tengah pandemi covid-19. Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika, 92, 413–423. Putra, I. G. D., Sujana, I. W., & Wiyasa, I. K. N. 2020. Hasil belajar ips menggunakan kolaborasi model discovery learning berbasis media animasi. Journal Of Education Technology, 42. Santoso, T. D. 2018. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Kompetensi Pemeliharaan/ Servis Engine dan Komponen Komponennya Melalui Metode Pembelajaran Edutainment pada Siswa Tingkat X SMK Negeri 4 Kendal. Universitas Negeri Semarang. Saputri, Y. E., Darvina, Y., Putra, A., & Sari, S. Y. 2019. Pengaruh penerapan bahan ajar interaktif bermuatan karakter menggunakan model pembelajaran discovery learning pada materi fluida terhadap pencapaian kompetensi siswa kelas XI SMAN 7 Solok Selatan. Pillar Of Physics Education, 124. Sari, P. I., Gunawan, G., & Harjono, A. 2016. Penggunaan discovery learning berbantuan laboratorium virtual pada penguasaan konsep fisika siswa. Jurnal Pendidikan Fisika Dan Teknologi, 24. Sasmita, M. A., & Purnamasari, N. L. 2020. Perbandingan metode pembelajaran edutainment dan Winarti et al./Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika 5 1 2021 47-54 54 metode pembelajaran konvensional terhadap prestasi siswa pada mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi tik Di SMA Negeri 1 Kalidawir. Jurnal Of Education And Information Communication Technology, 21. Setiadi, Eka, A., & Supartini, S. 2020. Implementasi pendekatan science edutainment berbasis lesson study terhadap hasil belajar siswa biologi. Jurnal Pendidikan Biologi, 51. Setiadi, A. E., & Supartini, S. 2020. Implementasi pendekatan science edutainment berbasis lesson study terhadap hasil belajar siswa biologi. JPBIO Jurnal Pendidikan Biologi, 51, 12-19. Setiyaningsih. 2019. Pengembangan Modul Berbasis Edutainment pada Pokok Bahasan Bangun Datar. Universitas Islam Negeri Raden Intan. Setyawati, Y., & Widodo, J. 2020. Pengembangan economics edutainment book penunjang bahan ajar pokok bahasan teori perilaku konsumen. Economic Education Analysis Journal, 91. Shinta, S., Fatmawati, S., & Nasir, M. 2020. Komparasi model problem based learning dan discovery learning terhadap hasil belajar ditinjau dari kemampuan awal. Kappa Journal, 41. Sofyan, M. A., Wasis, W., & Ibrahim, M. 2017. Pengembangan perangkat pembelajaran berdasarkan masalah berbasis edutainment untuk melatihkan kreativitas siswa smk jurusan otomotif pada materi fluida statis. Jurnal Penelitian Pendidikan Sains, 71. Supardi, U. S., Leonard, L., Suhendri, H., & Rismurdiyati, R. 2012. Pengaruh media pembelajaran dan minat belajar terhadap hasil belajar fisika. Formatif Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA, 21. Supartinah, A. 2018. Penerapan model pembelajaran discovery dengan metode jigsaw untuk peningkatan kemampuan pemecahan masalah fluida dinamis. Ideguru Jurnal Karya Ilmiah Guru, 32. Suprapti, E. D. 2020. Meningkatkan prestasi belajar irisan kerucut melalui model discovery learning. Jurnal Ilmu Pendidikan Dan Kependidikan, 81. Susanti, D., Anwar, C., Putra, F. G., Netriwati, N., Afandi, K., & Widyawati, S. 2020. Pengaruh model pembelajaran discovery learning tipe poe dan aktivitas belajar terhadap kemampuan metakognitif. Jurnal Inovasi Matematika Inomatika, 22. Telupun, D. 2020. Efektivitas penerapan model pembelajaran edutainment untuk memotivasi peserta didik selama pembelajaran secara daring di masa pandemi covid-19. Jurnal Syntax Transformation, 16. Wabula, M., Papilaya, P. M., & Rumahlatu, D. 2020. Pengaruh model pembelajaran discovery learning berbantuan video dan problem based learning terhadap motivasi dan hasil belajar siswa. Jurnal Pendidikan, Biologi Dan Terapan, 51. Warimun, E. S. 2012. Penerapan model pembelajaran problem solving fisika pada pembelajaran topik optika pada mahasiswa materi fluida dinamis. JPF, 61. Yuliani, H. 2017. Pembelajaran Fisika menggunakan media animasi macromedia flash-MX dan Gambar untuk meningkatkan pemahaman konsep pendidikan fisika. Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika Al-Biruni, 61. ... This approach is based on the principles of discovery learning extended with the principles of constructivist, socio-cultural and adult learning theory, the concept of computer-based cognitive tools and the aspects on which computational experiments are based. Sofyan, Wasis, and Ibrahim 2017 revealed their findings, namely that discovery learning can increase students' creativity in edutainment-based physics learning Winarti et al., 2021. In other relevant research, discovery learning can improve student learning outcomes in physics learning in circular motion materials Mardiana et al., 2021. ...Noor Izzati Pratiwi Misbah MisbahSarah MiriamNurlaela MuhammadThis study aims to evaluate the most relevant themes related to discovery learning through bibliometric analysis, with its input using the keyword "Discovery learning in Science Learning". The Scopus index database is used in this study as the source database to conduct a bibliometric study for an academic article in the period between 1976 to 2022. This research also uses the VOSviewer app as a bibliometric analysis tool to visualize networks of authors, countries, journals, and keywords. This study found that the number of publications on discovery learning has grown periodically. This study also identifies the top ten authors, top ten affiliations, the top ten countries, and the top ten journal publications as sources in the field of discovery learning. Keyword analysis proves that the study of discovery learning in the last four decades has centred on themes related to computer science education, learning models, discovery learning, public understanding/outreach, high school/introductory chemistry, and constructivism. The bibliometric analysis presented in this study provides relevant information about the main theme learned about discovery learning in science learning, which is seen in the increase in creativity, learning outcomes, and student achievement in school teaching and learning activities.... The aspects contained in the next curriculum are discovery-inquiry methods. Guided discovery teaching as teachers interacting with students with problems and guiding students to discover important concepts with living problems, from old experiences to gradually getting into critical thinking and comprehensively evaluating learning activity, and connecting teaching with real life Winarti et al., 2021;Zhang et al., 2019. Guided discovery learning therefore was to change traditional rules into lively and positive learning. ...Muhammad Akil MusiMuh. Yusri BachtiarHerlinaSitti Nurhidayah IlyasThe value of local wisdom contains the noble values of the nation's ancestors that can be used as capital to form a nation with good and strong character. Multicultural education must be provided in schools and educational environments that have equal opportunities regardless of race, ethnicity, language, religion, gender, cultural background, socio-cultural status, and sexual orientation. This study aims to analyses the application of Bugis cultural values in early childhood learning. The research was conducted through a qualitative approach to describe a phenomenon. Data collection was carried out in the form of interviews, observations and document studies through informants at the Kindergarten. The data analysis technique used in this research is interactive model analysis using triangulation to validate the data. The results showed that the multicultural learning curriculum consisted of multiple intelligences, universal values, gender equality, and local wisdom. The values of local wisdom of the Bugis community in early childhood learning are found to be values, namely sipakatau mutualizing one another, sipakaraja mutual respect, sipakalebbi mutual honoring, sipakainge reminding each other, sipatokkong generating enthusiasm and sipakatuwo supporting each other. The value of local wisdom is integrated in the early childhood learning process.... Pada materi ekosistem bukan hanya pengumpulan antara konsep, fakta, dan prinsip pada proses pembelajaran tetapi juga merupakan suatu proses penemuan Masdariah et al., 2018. Dengan adanya model discovery learning ini dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memecahkan permasalahannnya sendiri sesuai dengan tingkat kesukaran, saat peserta didik telah berhasil dalam menyelesaikan masalah dengan tingkat kesukaran yang lebih rendah maka peserta didik dapat melanjutkan ke tingkat kesukaran yang lebih tinggi dari sebelumnya Metha Rozhana & Harnanik, 2019;Winarti et al., 2021. ...Melinina Putri CostadenaNi Wayan SuniasihPemanfaatan teknologi dalam penggunaan bahan ajar belum sepenuhnya optimal pada proses pembelajaran. Penelitian pengembangan ini bertujuan untuk menciptakan bahan ajar berupa E-LKPD interaktif berbasis discovery learning pada muatan IPA materi ekosistem kelas V SD. Penelitian pengembangan E-LKPD ini menggunakan model ADDIE. Metode pengumpulan data dalam penelitian pengembangan ini dengan melaksanakan observasi, wawancara, dan kuesioner. Subjek uji coba terdiri dari 1 ahli materi,1 ahli desain, 1 ahli media, uji coba perorangan 3 orang peserta didik, dan uji coba kelompok kecil 9 orang peserta didik Data tersebut dianalis secara deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian review materi pembelajaran memperoleh persentase sebesar 91,6%, hasil review ahli desain pembelajaran memperoleh persentase sebesar 93,75%, hasil review ahli media pembelajaran memperoleh persentase sebesar 93,75%., uji coba perorangan memperoleh persentase sebesar 95%, dan uji coba kelompok kecil memperoleh persentase sebesar 95,31%. Persentase skor keseluruhan diperoleh dengan kualifikasi sangat baik sehingga E-LKPD interaktif berbasis discovery learning materi ekosistem layak digunakan untuk siswa kelas V SD. Implikasi penelitian ini diharapkan dapat membantu guru dalam pembelajaran daring untuk menjelaskan materi dan membantu siswa yang mengalami kesulitan memahami materi khususnya materi AlimuddinAg. Tamrin Cucuk BudiyantoTuntutan keterampilan abad 21 telah mendorong pendidik untuk terus melakukan inovasi pembelajaran, salah satunya adalah mengembangkan model pembelajaran berbasis mobile. Penelitian yang dilakukan ini bertujuan untuk menghasilkan produk mobile learning berbasis Google Site yang dipadukan dengan model pembelajaran Discovery Learning. Model pengembangan yang digunakan berdasarkan prosedur pengembangan Gall, Gall dan Borg yang terdiri dari 10 tahap dan dilakukan sampai tahap akhir dengan menghasilkan produk final mobile learning berbasis Google Site. Validasi oleh ahli materi mendapatkan nilai 90% dengan predikat sangat layak. Validasi oleh ahli media memperoleh nilai 97,5 % dengan predikat sangat layak. Media telah diujicobakan secara terbatas kepada 15 dan 30 peserta didik yang duduk di kelas XI Kompetensi Keahlian Teknik Pemesinan Sekolah Menengah Kejuruan SMK. Setelah memperbaiki produk hasil dari ujicoba terbatas, produk di uji lapangan diperluas ke-3 sekolah dengan total 78 responden. Respon peserta didik terhadap media pembelajaran secara garis besar sangat positif dengan nilai 87,17%. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran mobile learning berbasis Google Site pada mata pelajaran Teknik Pemesinan Bubut kelas XI Teknik Pemesinan SMK ini tergolong dalam kategori sangat layak dan dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan abad 21 peserta didik di SMKLinda PurnamasariAbdul HakimNurul F. SulaemanDarmadianingsihPenelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kemampuan pemecahan masalah siswa pada materi fluida statis. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimental kuasi, dengan desain penelitian yaitu tipe rancangan pasangan subjek melalui tes awal dan tes akhir dengan kelompok kontrol. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 3 Samarinda pada kelas XI MIPA 4 dan XI MIPA 5. Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan teknik tes yang dilaksanakan sebelum kegiatan pembelajaran pretest dan sesudah kegiatan pembelajaran posttest, dengan jenis instrumen tes yaitu tes esai. Hasil analisis uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa model discovery learning berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa, dimana terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Terjadi peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol. Hal ini didasarkan pada hasil uji N-Gain dimana rata-rata N-Gain kelas ekperimen adalah 0,6 dan kelas kontrol 0,3 yang mana keduanya termasuk kategori sedang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model discovery learning dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa SMA pada materi fluida Eka SetiadiSri SupartiniMetode diskusi dalam pembelajaran biologi di SMA Negeri 1 Pontianak belum mampu meningkatkan hasil belajar siswa biologi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi pembelajaran dengan pendekatan science-edutainment berbasis lesson study dan mengetahui keberhasilan implementasinya terhadap hasil belajar siswa. Penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas PTK. Kelas XI MIPA 9 dipilih sebagai sampel penelitian. Pengambilan data dilakukan melalui tes kognitif, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil refleksi 100% siswa sudah belajar dengan antusias, leluasa bergerak, dan aktif berdiskusi. Rata-rata nilai siswa sebelum dilakukannya tindakan hanya 49,43 dengan persentase ketuntasan 49,43% dan setelah diajarkan menggunakan pendekatan science-edutainment, pada siklus I rata-rata nilai mencapai 83,71 dengan persentase ketuntasan 77,14% dan meningkat pada siklus II menjadi 89,43 dengan persentase 97,14%. Kesimpulannya implementasi pembelajaran telah berhasil meningkatkan hasil belajar siswa kunci Lesson study, science-edutainment, ular tangga, hasil belajar biologi Implementation of science edutainment approach based lesson study to learning outcomes. The discussion method in SMA Negeri 1 Pontianak hasn’t support improvement in Biology learning outcomes. This study aims to describe the implementation of the science-edutainment-based learning approach and find out the student learning outcomes. The method used by Classroom Action Research. Class XI MIPA 9 was chosen sample research Data collected through cognitive tests, observation, and documentation. The results showed that the results of the reflection is 100% of students had learned enthusiastically, were free to move, and were active in discussions. The average student score before taking action was only with a percentage of completeness and after being taught using the science-edutainment approach, in the first cycle, the average value reached with a percentage of completeness is and increased in the cycle II to with a percentage is The conclusion of the implementation of learning has succeeded in improving biology students learning Lesson study, science-edutainment, snakes and ladders, biology learning outcomesPengembangan Modul Berbasis Edutainment pada Pokok Bahasan Bangun DatarSetiyaningsihSetiyaningsih. 2019. Pengembangan Modul Berbasis Edutainment pada Pokok Bahasan Bangun Datar. Universitas Islam Negeri Raden economics edutainment book penunjang bahan ajar pokok bahasan teori perilaku konsumenY SetyawatiJ WidodoSetyawati, Y., & Widodo, J. 2020. Pengembangan economics edutainment book penunjang bahan ajar pokok bahasan teori perilaku konsumen. Economic Education Analysis Journal, 91.pada materi fluida statisM A SofyanW WasisM IbrahimSofyan, M. A., Wasis, W., & Ibrahim, M. 2017. pada materi fluida statis. Jurnal Penelitian Pendidikan Sains, 71. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Rendahnya kualitas proses pembelajaran dan hasil pembelajaran dalam pendidikan merupakan masalah yan penting bagi setiap bangsa yang sedang berkembang atau yang telah maju sebab pendidikan merupakan salah satu tolak ukur krmajuan suatu bangsa. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan dilihat dari kualitas proses dan hasil belajar yang bermanfaat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan dalam undang-undang No. 20 Tahun 2003 disebutkan bahwa " tujuan pendidkan nasional dalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman danbertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memilliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta bertanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan".Fisika merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Melalui pendidikan fisika siswa dilatih untuk dapat berpikir secara kritis, logis, cermat, sistematis, kreatif dan inovatif. Hal ini merupakan beberapa kemampuan yang dapat dikembangkan melalui pendidikan fisika yang baik. Di samping itu ada beberapa sikap positif yang dapat berguna dalam pemecahan masalah percaya diri, pantang menyerah, ulet dan disiplin dalam melalukan segala sesuatu. Pendidkan fisikan yang terbaik hanya akan terjadi jika proses belajar mengajar fisika di dalam kelas berhasil membelajarkan siswa untuk berpikir dan bersikap. Pada kenyatan yang sering kita lihat di sekolah, terdapat siswa yang tidak menyukai pelajaran fisika. Sebagian siswa menggangap bahwa pelajaran fisika itu sebagai pelajaran yang menakutkan, sulit serta membosakan. Pandangan negatif siswa terhadap pelajaran fisika ini menyebabkan rendahnya hasil belajar dan minat belajar siswa terhadap pelajaran fisika. Pada hal jika ditelisik dari konsep pembelajaran, pelajaran fisika semestinya menjadi mata pelajaran yang sangat menyenangkan dan di sukai oleh beberapa faktor yang mempengaruhi mengapa pelajaran fisika tidak di sukai oleh siswa, salah satunya adalah metode pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam mengajar di kelas. Masih banyak guru yang menggunakan metode konvensional atau metode ceramah. Metode ceramah dianggap sebagai metode yang paling mudah, padahal tidak semua mata pelajaran cocok menggunakan metode ceramah. Dengan metode ceramah pusat pembelajaran hanya terletak pada guru, siswa lebih banyak menengarkan dan mencatat informasi tanpa mengetahui konsep dari pembelajaran itu sendiri. Sehingga keterampilan yang ada di dalam diri siswa tidak dapat terlatih dengan baik. Selain itu juga, minat belajar siswa terhadap pelajaran fisika akan menurun dan akan berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa terhadap mata pelajaran fisika. Proses pembelajaran yang berlangsung satu arah dan monoton tersbut menyebabkan siswa kurang aktif dan kurang dapat meningkatkan minat belajar siswa yang pada akhirnya tidak bisa dipugkiri masih banyak menggangap fisika sebagai pelajaran yang sulit dan menbosankan. Sehingga, siswa tidak dapat menerapkan konsep pembelajaran fisika dalam menyelesaikan soal-soal yang diberikan oleh guru yang dibuat sedikit berbeda. Oleh karena itu dalam pembelajaran fisika guru perlu menggunakan model pembelajaran yang tepat dan menarik sehingga siswa lebih termotivasi dalam pembelajaran problem solving pada dasarnya merupakan hakikat tujuan pembelajaran yang menjadi kebutuhan peserta didik dalam menghadapi kehidupan nyata. Didalam kehidupan sehari-hari peserta didik telah banyak dihadapkan dengan sebuah masalah baik dilingkungan rumah, sekolah ataupun di masyarakat. Kurangnya kepercayaan uang di berikan kepada peserta didik di lingkugan keluarga untuk menghadapi masalah-masalah yang ada merupakan salah satu faktor yang menyebabkan peserta didik tidak terlatih untuk melalukan problem solving. 1 2 Lihat Pendidikan Selengkapnya Physics is one of the subjects that feared and considered difficult by students. This is evidenced by the lack of students interested in physics lessons to choose national exam 2017 year as well as the low values obtained by the students. The students thought patterns to make physics bore and become not unpleasant but in fact physics is a subject that is very important in opening up and lays out the phenomenon of natural phenomena that exist around us. The issue underlying the above for doing an activity that aims to change the pattern of thought against physics students so that students become interested. Props used as media of instruction were used. Props were made from simple tools that can be found around us. Students can use the props in learning as one form the applications of physics so that physics will be fun and enjoyable. As a result, by using simple props application method is 50 percent of the students stated that the physics be fun and enjoyable. This is evidenced by the results obtained with the use of pre-and post-test as well as a questionnaire filled out by students. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free 10731072 [10]. Moreno, Gomez, R. Giraldo, L. 2010. Removal Of Mn, Fe, Ni And Cu Ions From Wastewater Using Cow Bone Vol 3 Hal 452-466[11]. Morris, Howard, T. McMurdie. Evans, Paretzkin, B. Parker, Nicolas, C. Panagiotopoulos. 1981. NBS Monograph 25-Section 18 Standar X-Ray Diffraction Powder Centre for Diffraction Data Department of Commerce, Wasington DC.[12]. Richana, N. Lestina, P. Irawadi, T. 2004. Karakterisasi Lignoselulosa dari Limbah Tanaman Pangan dan Pemanfaatannya untuk Pertumbuhan Bakteri RXA III-5 Penghasil Xilanase. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen. Institut Pertanian 23 Hal 112[13]. Riadi, S. 2010. Fabrikasi dan Karakterisasi Nanopartikel Platinum pada Elektroda Karbon dari Bahan Serbuk Kayu Karet sebagai Bahan Sel Superkapasitor. Skripsi Jurusan Fisika FMIPA, Universitas Riau, Pekanbaru. [14]. Influence of Pyrolysis Conditions on Pore Development of Oil-palm-shell Activated Carbons. Journal of Analytical and AppliedPyrolysis. Vol 76 Hal 96-102[15]. Taer, E. 2009. Pembangunan Superkapasitor Menggunakan Elektroda Karbon. Laporan Penelitian FMIPA Universitas Riau[16]. Yin, Aroua, Daud, 2007. Review of modification of activated carbon for enhancing contaminant uptakes from aqueous solutions. Technol. Vol52 Hal 403–415Aplikasi Fisika menggunakan alat peraga SederhanaSebagai Media Pembelajaran Fisika SecaraAsyik dan MenyenangkanZulkarnain 1, Ona Lestary Tondang2, Wita Yulia3,Andri Saputra4,Siti Nurul Alifah5,Reeky Fardinata 6Program Studi S1 Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Riau Kampus Bina WidyaJl. Prof. Muchtar Luthfi Pekanbaru, 28293, Indonesiazulkarnain is one of the subjects that feared and considered difficult by students. This is evidenced by the lack of students interested in physics lessons to choose national exam 2017 year as well as the low values obtained by the students. The students thought patterns to make physics bore and become not unpleasant but in fact physics is a subject that is very important in opening up and lays out the phenomenon of natural phenomena that exist around us. The issue underlying the above for doing an activity that aims to change the pattern of thought against physics students so that students become interested. Props used as media of instruction were used. Props were made from simple tools that can be found around us. Students can use the props in learning as one form the applications of physics so that physics will be fun and enjoyable. As a result, by using simple props application method is 50 percent of the students stated that the physics be fun and enjoyable. This is evidenced by the results obtained with the use of pre-and post-test as well as a questionnaire filled out by props, application, have fun, mindsetABSTRAKFisika merupakan salah satu mata pelajaran yang ditakuti dan dianggap sulit oleh siswa. Hal ini dibuktikan dengan sedikitnya siswa yang berminat untuk memilih pelajaran fisika di ujian nasional tahun 2017 serta rendahnya nilai yang diperoleh oleh siswa. Pola pikir siswa yang membuat fisika menjadi tidak asyik dan tidak menyenangkan padahal pada kenyataannya fisika merupakan mata pelajaran yang sangat penting dalam membuka dan menjabarkan fenomena fenomena alam yang ada disekitar kita. Permasalahan diatas yang mendasari untuk melakukan sebuah kegiatan yangbertujuan untuk mengubah pola fikir siswa terhadap fisika sehingga siswa menjadi tertarik. Alat peraga digunakan sebagai media pembelajaran yang digunakan. Alat peraga dibuat dari bahan bahan sederhana yang dapat ditemukan di sekitar kita. Siswa dapat menggunakan alat peraga dalam pembelajaran sebagai salah satu bentuk aplikasi fisika sehingga belajar fisika menjadi asyik dan menyenangkan. Hasilnya, dengan menggunakan metode aplikasi alat peraga sederhana,50 persen siswa menyatakan bahwa fisika menjadi asyik dan menyenangkan. Ini dibuktikan dengan hasil yang diperoleh dengan menggunakan pre-test dan post-test serta kuisioner yang diisi oleh alat peraga, aplikasi, asyik, pola pikirJurnal Komunikasi Fisika Indonesia Jurusan Fisika FMIPA Univ. Riau Pekanbaru. 2017, Vol 14 No. 2; e-2579-521X Email 10741. PENDAHULUANFisika merupakan salah satu bidang studidi sekolah yang sering kali ditakuti oleh parasiswa mulai dari siswa sekolah menengahpertama sampai sekolah menengah siswa dikarenakan menurut merekapelajaran fisika terdapat banyak rumus-rumusyang rumit, dan pemahaman matematika yangbaik. Berdasarkan data yang didapatkan olehtim berisik, mata pelajaran fisika adalah matapelajaran yang memiliki sedikit peminatdibandingkan dengan mata pelajaran eksaktalainnya. Ini terbukti dengan data yang didapatdari Dinas Pendidikan dan KebudayaaanProvinsi Riau pada Gambar 1 dan nilai ujian nasional yang diperoleh oleh siswa Provinsi RiauGambar 2. Indeks nilai ujian nasional siswa Provinsi RiauFisika mengambil titik acuan pada alamsebagai objek pengamatan. Pembelajaranfisika sama seperti mempelajari fenomena-fenomena yang menakjubkan dari alam. Fisikadigambarkan dalam bentuk persamaan-persamaan matematika. Permasalahan yangtimbul adalah siswa justru terperangkapdengan dunia rumus-rumus yang sebenarnyaadalah penggambaran secara matematis darifenomena fenomena alam yang fisika tidaklah rumitsepertiyang diketahui siswa pada umumnya, karenamemang untuk memahami fisika perlu metodebaik yang membuat siswa tertarik terhadapilmu fisika. Profesor Yohannes Surya, PendiriSurya Institute berkata untuk mendapatkangenerasi yang cerdas diperlukan guru yangbaik dan metode yang tepat [Surya, 2013].Guru merupakan suatu fondasi yang sangatdasar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa 10751074 1. PENDAHULUANFisika merupakan salah satu bidang studidi sekolah yang sering kali ditakuti oleh parasiswa mulai dari siswa sekolah menengahpertama sampai sekolah menengah siswa dikarenakan menurut merekapelajaran fisika terdapat banyak rumus-rumusyang rumit, dan pemahaman matematika yangbaik. Berdasarkan data yang didapatkan olehtim berisik, mata pelajaran fisika adalah matapelajaran yang memiliki sedikit peminatdibandingkan dengan mata pelajaran eksaktalainnya. Ini terbukti dengan data yang didapatdari Dinas Pendidikan dan KebudayaaanProvinsi Riau pada Gambar 1 dan nilai ujian nasional yang diperoleh oleh siswa Provinsi RiauGambar 2. Indeks nilai ujian nasional siswa Provinsi RiauFisika mengambil titik acuan pada alamsebagai objek pengamatan. Pembelajaranfisika sama seperti mempelajari fenomena-fenomena yang menakjubkan dari alam. Fisikadigambarkan dalam bentuk persamaan-persamaan matematika. Permasalahan yangtimbul adalah siswa justru terperangkapdengan dunia rumus-rumus yang sebenarnyaadalah penggambaran secara matematis darifenomena fenomena alam yang fisika tidaklah rumitsepertiyang diketahui siswa pada umumnya, karenamemang untuk memahami fisika perlu metodebaik yang membuat siswa tertarik terhadapilmu fisika. Profesor Yohannes Surya, PendiriSurya Institute berkata untuk mendapatkangenerasi yang cerdas diperlukan guru yangbaik dan metode yang tepat [Surya, 2013].Guru merupakan suatu fondasi yang sangatdasar untuk mencerdaskan kehidupan bangsaKualitas guru di Indonesia sudah dalamangka yang memuaskan hanya saja kebanyakguru belum memiliki metode yang tepat untukmemberikan pengertian sebenarnya dari mengenalkan fisika secara mudahdan asyik dengan menerapkan metodepembelajaran yang asyik yaitu denganmenggunakan alat alat peraga sederhana yangdapat dibuat oleh siswa di sekitar yang belajar fisika bukan hanya bisamemahami teori-teori fisika saja, tetapi, jugabisa belajar fisika dengan alat peraga yangdibuat oleh siswa itu PKM-M ini bertujuan untuk mengubah pola pikir siswa, menumbuhkan motivasi dan minat siswa terhadap ilmu fisika dan menerapkan serta memahami aplikasi fisika yang sesungguhnya dalam kehidupan sehari hari. Luaran yang diharapkan tercapai dalam program ini adalah dapat meningkatnya minat siswa untuk lebihmencintai dan memahami fisika dan menemukan metode yang tepat dalam menumbuhkan motivasi,minat atau gairah belajar siswa dalam mempelajari Fisika. Permasalahan ini dapat diselesaikan secara penyuluhan berupa workshop dengan mengedepankan konsep konkret dari setiap topik fisika dan dilanjutkan dengan pendalaman materi yang METODE Tahapan tahapan yang dilakukan dalam melakukan PKM M dapat dilihat pada Gambar 3. Sebelum melaksanakan pengabdian, tim melakukan survei lapangan. Survei bertujuan untuk mencari sekolah sasaran yang tepat untuk dijadikan tempat pengabdian. Tim telah mengunjungi beberapa SMA yang berada di luar kota Pekanbaru, dan pada akhirnya memberikan keputusan bahwa SMAN 1 Tapung akan dijadikan tempat pengabdian. Tim memilih SMAN 1 Tapung karena SMAN 1 Tapung adalah sekolah yang dianggap bisa mewakili responsif siswa di kecamatan Tapung, Kampar. Hal ini dikarenakan pusat kegiatan tingkat kecamatan dilaksanakan di SMAN 1 Tapung. Perjalanan menuju lokasi SMAN 1 Tapung bisa ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam menggunakan mobil dari kampus UR. Tim segera melakukan konfirmasi untuk mengadakan kerjasama mitra dengan pihak sekolah dengan menemui Kepala Sekolah dan wakil kesiswaan. Ketika tim terpilih menjadi salah satu tim yang didanai oleh Kemenristekdikti, tim langsung menentukan kapan kegiatan akan alir Pengabdian PKM M 1076Tahapan berikutnya adalah persiapan kegiatan dengan membeli alat dan bahan yang akan digunakan untuk alat peraga yang akan ditampilkan ketika kegiatan. Selain itu, tim juga mengadakan latihan serta briefing agar penampilan tim ketika kegiatan maksimal, asyik dan kegiatan ke lokasi acara dilakukan oleh Tim sebanyak tiga kali. Kegiatan pertama diadakan pada tanggal 15 April 2017 dalam bentuk diskusi dan demonstrasi. Kegiatan kedua diadakan pada tanggal 25 April 2017 dalam bentuk demonstrasi dan Workshop, dan kegiatan ketiga diadakan pada bulan Juli dalam bentuk monitoring dan evaluasi pada guru ketika mengimplementasikan ilmu yang didapati dari kegiatan memberikan pre-test pada siswa berupa soal yang berkaitan dengan materi yang akan tim sampaikan ketika pelaksanaan kegiatan PKM, dilanjutkan dengan diskusi melalui tanya jawab di sekitar kendala-kendala yang mereka hadapi selama mempelajari fisika. Tim kemudian memberikan solusi sesuai dengan yang diperlukan siswa. Pada tahapan ini juga tim melakukan kegiatan Ice Breaking yang bertujuan agar siswa merasa nyaman dan akrab dengan tim berikutnya adalah demonstrasi dilakukan terkait hubungan sistem kerja alat dengan teori ilmu fisika. Setelah timmemperagakan di hadapan siswa selanjutnya adalah siswa yang melakukan demonstrasi sehingga siswa menjadi paham hubungan sistem kerja alat alat peraga dan mereka mampu menguraikan bagaimana cara kerja dari alat tersebut. Pembuatan yang sederhana dan tidak membutuhkan waktu yang lama membuat siswa semakin terlihat antuasias dan bersemangat. Alat peraga yang digunakan adalah panflute, mengubah air teh menjadi air putih, Air Tornado, Balon yang menyeimbangkan, Giroskop manusia, Kaleng yang bisa kembali Comeback Can, Pembelokkan cahaya pada air, Menangkap uang jatuh, Cartesian ini masih berlanjut pada kehadiran tim berikutnya dalam program Workshop. Pada akhir kegiatan tim memberikan Post-test dan Kuisionerkepada seluruh berisi pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya merubah mindset mereka terhadap pelajaran fisika, metode penyampaian dan harapan mereka terhadap proses pembelajaran. Kuisoner diisi dengan memberi tanda centang pada kolom yang telah disediakan,pretest dan postest diberikan untuk membandingkan hasil jawaban mereka terhadap materi yang diberikan. Kegiatan yang telah dilakukan oleh Tim BERISIK tidak hanya sekedar pelaksanaan diskusi, demonstrasi dan workshop. Kegiatan selanjutnya adalah sebagai berikut Penerbitan buku panduan secara massal, pelaksanaan kegiatan serupa di sekolah sekolah lain terutama yang ada di Provinsi Riau yang memiliki kondisi lebih kurang sama dengan kondisi sekolah sebelumnya, Pembuatan Hak Paten alat alat Peraga, Pelatihan Olimpiade dan Ujian Nasional di SMAN 1 Tapung dan Keikutsertaan tim dalam PKM HASIL DAN PEMBAHASANAdapun hasil yang dicapai tim BERISIK dalam kegiatan PKM-M ini adalah 1. Berdasarkan Pre-test dan Post-testHasil kuantitatif didapatkan tim dengan memberikan pre-test sebelum kegiatan berlangsung dan post-test pada akhir kegiatan. Pre-test dan post-test dibuat berupa soal yang sama agar tim bisa membandingkan nilai yang dihasilkan oleh siswa. Soal terdiri dari lima butir. Soal pertama merupakan soal yang berhubungan dengan hukum Archimedes yang sama dengan prinsip kerja dari Cartesian diver. Soal kedua tentangresonansi yang sama dengan prinsip kerja dari Pan Flute. Soal ketiga merupakan soal yang berhubungan dengan rotasi yang sama dengan 10771076 Tahapan berikutnya adalah persiapan kegiatan dengan membeli alat dan bahan yang akan digunakan untuk alat peraga yang akan ditampilkan ketika kegiatan. Selain itu, tim juga mengadakan latihan serta briefing agar penampilan tim ketika kegiatan maksimal, asyik dan kegiatan ke lokasi acara dilakukan oleh Tim sebanyak tiga kali. Kegiatan pertama diadakan pada tanggal 15 April 2017 dalam bentuk diskusi dan demonstrasi. Kegiatan kedua diadakan pada tanggal 25 April 2017 dalam bentuk demonstrasi dan Workshop, dan kegiatan ketiga diadakan pada bulan Juli dalam bentuk monitoring dan evaluasi pada guru ketika mengimplementasikan ilmu yang didapati dari kegiatan memberikan pre-test pada siswa berupa soal yang berkaitan dengan materi yang akan tim sampaikan ketika pelaksanaan kegiatan PKM, dilanjutkan dengan diskusi melalui tanya jawab di sekitar kendala-kendala yang mereka hadapi selama mempelajari fisika. Tim kemudian memberikan solusi sesuai dengan yang diperlukan siswa. Pada tahapan ini juga tim melakukan kegiatan Ice Breaking yang bertujuan agar siswa merasa nyaman dan akrab dengan tim berikutnya adalah demonstrasi dilakukan terkait hubungan sistem kerja alat dengan teori ilmu fisika. Setelah timmemperagakan di hadapan siswa selanjutnya adalah siswa yang melakukan demonstrasi sehingga siswa menjadi paham hubungan sistem kerja alat alat peraga dan mereka mampu menguraikan bagaimana cara kerja dari alat tersebut. Pembuatan yang sederhana dan tidak membutuhkan waktu yang lama membuat siswa semakin terlihat antuasias dan bersemangat. Alat peraga yang digunakan adalah panflute, mengubah air teh menjadi air putih, Air Tornado, Balon yang menyeimbangkan, Giroskop manusia, Kaleng yang bisa kembali Comeback Can, Pembelokkan cahaya pada air, Menangkap uang jatuh, Cartesian ini masih berlanjut pada kehadiran tim berikutnya dalam program Workshop. Pada akhir kegiatan tim memberikan Post-test dan Kuisionerkepada seluruh berisi pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya merubah mindset mereka terhadap pelajaran fisika, metode penyampaian dan harapan mereka terhadap proses pembelajaran. Kuisoner diisi dengan memberi tanda centang pada kolom yang telah disediakan,pretest dan postest diberikan untuk membandingkan hasil jawaban mereka terhadap materi yang diberikan. Kegiatan yang telah dilakukan oleh Tim BERISIK tidak hanya sekedar pelaksanaan diskusi, demonstrasi dan workshop. Kegiatan selanjutnya adalah sebagai berikut Penerbitan buku panduan secara massal, pelaksanaan kegiatan serupa di sekolah sekolah lain terutama yang ada di Provinsi Riau yang memiliki kondisi lebih kurang sama dengan kondisi sekolah sebelumnya, Pembuatan Hak Paten alat alat Peraga, Pelatihan Olimpiade dan Ujian Nasional di SMAN 1 Tapung dan Keikutsertaan tim dalam PKM HASIL DAN PEMBAHASANAdapun hasil yang dicapai tim BERISIK dalam kegiatan PKM-M ini adalah 1. Berdasarkan Pre-test dan Post-testHasil kuantitatif didapatkan tim dengan memberikan pre-test sebelum kegiatan berlangsung dan post-test pada akhir kegiatan. Pre-test dan post-test dibuat berupa soal yang sama agar tim bisa membandingkan nilai yang dihasilkan oleh siswa. Soal terdiri dari lima butir. Soal pertama merupakan soal yang berhubungan dengan hukum Archimedes yang sama dengan prinsip kerja dari Cartesian diver. Soal kedua tentangresonansi yang sama dengan prinsip kerja dari Pan Flute. Soal ketiga merupakan soal yang berhubungan dengan rotasi yang sama dengan prinsip kerja giroskop manusia dan tornadoair. Soal keempat merupakan soal yang berhubungan dengan hukum Newton yang sama dengan prinsip kerja menangkap uang yang jatuh. Soal kelima merupakan soal yang berhubungan dengan pusat massa pada benda yang tidak beraturan yang merupakan prinsip kerja dari balon yang menyeimbangkan. Hasilpretest dan postest seperti pada Tabel 1. Persentase kenaikan nilai pretest dan postestNo Kategori Soalkenaikan1Hukum Archimedes dan prinsip kerja kapal selam 890 1700 kenaikan yang ada pada pre-test dan post-test empat diantaranya lebih dari 50% membuktikan bahwa tim telah berhasil membuat tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang dijelaskan oleh tim Berdasarkan KuisionerKuisioner terdiri dari 12 pernyataan yang terdiri 5 pernyataan yang mengukur perubahan mindset siswa sedangkan 7 pernyataan yang mengukur tingkat kepuasan siswa terhadap kinerja tim BERISIK. Siswa diminta untuk mengisi tanda ceklis pada kolom sangat setuju SS, Setuju S, Netral N, Tidak Setuju TS, dan Sangat tidak setuju STS. NoPERTANYAAN SS S N TS STS1Pada awal workshop Tim BERISIK memberikan pertanyaan kepada saya tentang masalah atau kesulitan yang dihadapi oleh saya pada pelajaran Fisika dan memberikan solusinya41 43 52Tim BERISIK membimbing dan mengarahkan kami mempelajari Fisika dengan Demonstrasi alat peraga yang menarik dan asik57 323Demonstrasi alat peraga yang ditampilkan oleh Tim BERISIK memudahkan saya dalam memahami pelajaran Fisika, selain itu juga bisa dipratekkan sendiri63 20 64Tim BERISIK menampilkan demonstrasi alat peraga dengan menggunakan alat alat yang sederhana60 28 2 10785Tim BERISIK melakukan Demonstrasi alat peraga untuk memudahkan saya memahami pelajaran fisika56 29 3 16Tim BERISIK mengadakan workshop yang didampingi dengan pemateri yang asik 58 29 87Saya merasa senang dengan suasana workshop Tim BERISIK 57 31 108Saya menemukan pemecahan masalah yang saya hadapi dalam mata pelajaran Fisika 41 37 3 79Tim BERISIK memberikan materi Fisika dengan Asik dan menarik 58 21 8 110Tim BERISIK mengubah pola fikir saya tentang pelajaran Fisika 42 29 11 311Tim BERISIK mendemonstrasi konsep fisika dengan alat peraga yang sederhana 64 17 5 212Tim BERISIK antusias dan semangat dalam menyampaikan materi Demonstrasi alat peraga dan Workshop59 25 2 2Tabel 2. Kuisioner perubahan mindset dan kepuasan siswaAdapun hasil yang didapati oleh tim BERISIK adalah Gambar 4. Diagram tingkat kepuasan siswaGambar 4memperlihatkan diagram tingkat kepuasan siswa terhadap kinerja tim Berisik dalam mempresentasikan program kegiatan. Lebih dari separuh peserta merasa sangat puas dan seperempatnya puas. Ini menunjukkanbahwa hampir seluruh siswa merasa senang, asyik dan mudah dalam memahami materi yang disampaikan oleh tim berisik. 3. Kondisi pesertaSiswa yang mengikuti kegiatan yang diadakan oleh tim BERISIK berjumlah 450 siswa yang berasal dari kelas X dan XI MIA Matematika dan Ilmu Alam dan jumlah guru yang mengikuti kegiatan ini berjumlah 10 guru. Pada saat pertemuan pertama kedatangan tim 1079Tim BERISIK melakukan Demonstrasi alat peraga untuk memudahkan saya memahami pelajaran fisika56 29 3 16Tim BERISIK mengadakan workshop yang didampingi dengan pemateri yang asik 58 29 87Saya merasa senang dengan suasana workshop Saya menemukan pemecahan masalah yang saya hadapi dalam mata pelajaran Fisika 41 37 3 79Tim BERISIK memberikan materi Fisika dengan Asik dan menarik 58 21 8 110Tim BERISIK mengubah pola fikir saya tentang pelajaran Fisika 42 29 11 311Tim BERISIK mendemonstrasi konsep fisika dengan alat peraga yang sederhana 64 17 5 212Tim BERISIK antusias dan semangat dalam menyampaikan materi Demonstrasi alat peraga dan Workshop59 25 2 2Tabel 2. Kuisioner perubahan mindset dan kepuasan siswaAdapun hasil yang didapati oleh tim BERISIK adalah Gambar 4. Diagram tingkat kepuasan siswaGambar 4memperlihatkan diagram tingkat kepuasan siswa terhadap kinerja tim Berisik dalam mempresentasikan program kegiatan. Lebih dari separuh peserta merasa sangat puas dan seperempatnya puas. Ini menunjukkanbahwa hampir seluruh siswa merasa senang, asyik dan mudah dalam memahami materi yang disampaikan oleh tim berisik. 3. Kondisi pesertaSiswa yang mengikuti kegiatan yang diadakan oleh tim BERISIK berjumlah 450 siswa yang berasal dari kelas X dan XI MIA Matematika dan Ilmu Alam dan jumlah guru yang mengikuti kegiatan ini berjumlah 10 guru. Pada saat pertemuan pertama kedatangan tim BERISIK disambut dengan antusisme siswa yang sangat kurang bahkan tidak keseluruhan yang mengikuti kegiatan yang diadakan namun ketika kegiatan ice breaking dimulai dan peserta yang berada didalam ruangan mulai kedengaran riuh dan meriah satu persatu siswa yang berada diluar memasuki kegiatan dan mulai merasakan asyiknya kegiatan yang dibuat oleh tim BERISIK. Responsif siswa sangat memuaskan,dibuktikan dengan ramai dan semangatnya siswa selama proses kegiatan berlangsung. Kejadian yang sama juga terjadi di kegiatan kedua yang dilakukan oleh tim BERISIK melakukan kegiatan Workshop,banyak tanggapan yang dilontarkan oleh siswa. Laila Rizky Arizta siswa kelas XI MIA sekaligus merupakan ketua OSIS SMAN 1 Tapung mengungkapkan ”Selama pelaksanaan Workshop ini kami mendapatkan informasi informasi baru tentang fisika yang lebih mudah kami pahami serta banyak manfaat yang kami rasakan.”Berdasarkan hasilyang telah diperoleh tim BERISIK selama kegiatan, maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan yang diadakan oleh tim BERISIK berhasil mempengaruhi siswa untuk merubah mindset mereka terhadap fisika. 4. Buku BERISIKTim membuat buku panduan yang berisikan tentang tata cara pembuatan alat peraga yang sederhana. Buku panduan BERISIK diperuntukkan sebagai pegangan dosen pembimbing, tim BERISIK, siswa dan guru ditempat dilaksanakannya kegiatan. Harapan selanjutnya buku ini bisa diproduksi massal. Buku ini juga dilengkapi dengan ISBN yang menjamin keabsahan dari isi Seminar Salah satu bentuk hasil yang dicapai oleh Tim BERISIK adalah akan ikut sertanya Tim dalam Seminar Nasional Fisika yang akan diadakan di Pekanbaru bulan November mendatang dan menjadikan proceedingmenjadi salah satu KESIMPULANBerdasarkan kegiatan yang telah dilakukan oleh tim BERISIK selama empat bulan dapat disimpulkan bahwa tim BERISIK telah berhasil melakukan kegiatan dengan hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan awal program ini dibuat. Permasalahan permasalahan yang menjadi latar belakang dari kegiatan ini menjadi terselesaikan. Kegiatan dari tim BERISIK akan terus berlanjut tidak hanya di SMAN 1 Tapung saja tetapi akan menyebarluas di sekolah sekolah lainnya dan fisika tidak akan lagi menjadi mata pelajaran yang ditakuti oleh siswa karena hadirnya metode pembelajaran fisika yang BERISIK akan mengikuti kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa PKM di tahun 2018 mendatang, yaitu bidang PKM-Kewirausahaan dengan melanjutkan kegiatan PKMM sekarang ini, yaitu berupa memproduksi, menjual dan memberikan pelatihan penggunaan alat peraga Berisik dengan tujuan untuk mewujudkan potensi-potensi yang telah disebutkan di atas. 6. UCAPAN TERIMA KASIHUcapan terimakasih Tim PKM-MBERISIK Universitas Riau tujukkan kepada SMAN 1 Tapung selaku mitra dalam pelaksana yang senantiasa mendukung program BERISIK. Selain itu, ucapan terimakasih juga Tim PKM-M BERISIK tujukan kepada seluruh pihak yang mendukung kegiatan BERISIK. DAFTAR PUSTAKA1. Hudoyo, H., 1988. Belajar Mengajar Fisika. Jakarta Dirjen Liem 2007. Asyiknya meneliti sains. Bandung Pudak Scientific 10803. Sardiman. 2008. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta Raja Grafindo Persada4. Sofan, A., dan Model Pembelajaran dalam Kurikulum Prestasi Pustaka5. Sudjana, N., dan Rivai, A., 1991. Media Pembelajaran. Bandung CV. Sinar Baru Bandung. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta Raja Grafindo PersadaSardimanSardiman. 2008. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta Raja Grafindo PersadaPengembangan dan Model Pembelajaran dalam KurikulumA SofanSofan, A., dan Model Pembelajaran dalam Kurikulum Prestasi Pustaka 5. Sudjana, N., dan Rivai, A., 1991. Media Pembelajaran. Bandung CV. Sinar Baru Bandung. Bandung – Mengubah cara pandang bahwa fisika sulit dan menakutkan tentu bukan perkara mudah. Namun lain hal dengan para penggagas lahirnya Incredible Physics INDY besutan Program Studi Prodi Fisika Universitas Katolik Parahyangan UNPAR. Didesain menarik dan menyenangkan, para pelajar tingkat Sekolah Menengah Atas SMA akan diajak terjun menikmati keindahan fisika melalui aktivitas di INDY dengan berbagai pendekatan. Dosen Prodi Fisika UNPAR, Risti Suryantari, menuturkan bahwa INDY telah berjalan sejak 2019 silam. Saat itu, para penggagas, dalam hal ini dosen-dosen di Prodi Fisika UNPAR memiliki asa supaya fisika bisa menarik perhatian pelajar, utamanya SMA agar memandang fisika bukan hanya sekumpulan rumus yang sulit apalagi menakutkan. “Kami ingin lebih memperlihatkan bahwa fisika itu aplikasinya sangat luas dan sebetulnya kalau kita eksplorasi lebih dalam, fisika itu indah. Jika kita melihat kata Incredible Physics’, menunjukkan begitu luar biasanya fisika terutama sebagai dasar perkembangan teknologi,” tutur Risti, Jumat 21/5/2021 INDY, lanjut dia, merupakan suatu bentuk workshop fisika yang khusus dirancang bersama para pakar di bidangnya agar para siswa SMA dapat lebih jauh mempelajari materi-materi menarik dalam fisika. Menurut dia, tak dimungkiri bahwa pembelajaran fisika di tingkat SMA cenderung konvensional seperti belajar rumus dan bagaimana mengerjakan soal. Lebih lanjut, melalui INDY, pelajar diajak mengeksplorasi materi yang tak pernah mereka terima di SMA seputar teori dan eksperimen. “Pertama kali digagas tahun 2019, kami memikirkan bagaimana anak-anak sekolah agar tertarik mempelajari fisika. Melalui INDY diharapkan mereka dapat mengeksplorasi fisika lebih dalam, dengan materi-materi yang mengikuti perkembangan terkini. Karena sebetulnya banyak aspek dari eksperimen dan teori yang dapat dikaitkan dengan teknologi dan sesuatu yang sedang tren saat itu,” ujarnya. Dia pun mengungkapkan bahwa tema INDY tiap periode penyelenggaraannya akan berbeda, mengikuti tren terkini. Sementara metode pembelajaran yang dipakai adalah model pembelajaran aktif, dimana para pelajar diajak mengeksplorasi secara mandiri menggunakan peralatan atau piranti lunak dengan didampingi para pakar. Saat workshop berlangsung, para peserta akan dibekali dengan peralatan yang telah disiapkan. “Peserta diberikan kit peralatan sesuai dengan temanya, kemudian melakukan eksplorasi. Pertamanya tentu dipandu oleh narasumber, tetapi kemudian mereka dapat mencoba sendiri. Dari situ mereka akan menemukan masalah, kemudian menemukan juga solusinya. Harapannya adalah mereka dapat memandang fisika bukan sesuatu yang sulit dan rumit karena banyak rumus. Melainkan lebih melihat bahwa belajar fisika itu menyenangkan,” ucap Risti. INDY 2021 Medio 2021 ini, tepatnya pada 3, 10, dan 17 Juli akan dilaksanakan INDY 2021. Namun penyelenggaraan workshop bakal berlangsung secara daring via Zoom, berhubung situasi dan kondisi pandemi Covid-19 dan mengikuti pematuhan protokol kesehatan. Risti memaparkan bahwa pelajar SMA masih menjadi sasaran peserta, meskipun tak menutup kemungkinan untuk pelajar tingkat Sekolah Menengah Pertama SMP mengikuti INDY ke depannya. Topik utama pada INDY 2021 adalah 1 Deep Learning, Convolutional Neural Network, Implementasi pada Hardware, dan 2 Einstein Gravity, Solving Einstein Equations with MAPLE, Light Ring at The Center of M87. Kit peralatan nantinya akan dikirim terlebih dahulu sebelum workshop dimulai usai para peserta melakukan Registrasi INDY 2021. “Metodenya nanti masih sama, kami akan membekali mereka dengan peralatan. Peralatan akan kami kirim ke alamat masing-masing peserta setelah mereka melakukan registrasi dan akan mendapatkannya sebelum workshop. Nanti ketika workshop berlangsung meskipun daring, mereka tetap dapat mencoba dengan panduan dari narasumber. Jadi tetap bisa mengeksplorasi langsung,” katanya. Meski nantinya berlangsung secara daring, Risti optimistis penyelenggaraan INDY 2021 akan berjalan lancar. Berdasarkan pengalaman 2020 lalu, saat timnya memberikan workshop dalam bentuk Pelatihan Guru Fisika PGS secara daring, kegiatan berlangsung baik dan tak ada hambatan berarti. Meskipun tak dimungkiri, kendala saat pelatihan daring bisa saja terjadi. “Pengalaman kami memberikan workshop untuk guru dalam suasana daring dan kami kirimkan alat, cenderung cukup lancar. Namun untuk daring INDY 2021 ini memang nanti kesulitannya jika ditemukan masalah, tidak bisa langsung kami lihat masalahnya karena kalau saat offline kami bisa lihat, oh ini masalahnya di sini dan sebagainya,’. Jadi peserta harus menjelaskan masalahnya seperti apa, mungkin kesulitannya lebih ke situ. Meskipun pada akhirnya pasti bisa diselesaikan,” tuturnya. Cintai Fisika Dia pun berharap INDY ke depannya dapat menjangkau semua pelajar di berbagai tingkatan. Meskipun untuk INDY sendiri memang dari awal konsepnya menyasar pelajar sekolah menengah, utamanya pelajar SMA. Tentunya tetap pada fokus untuk mengenalkan keindahan fisika dengan target besar agar anak-anak tersebut dapat termotivasi belajar fisika lebih dalam dengan cara menyenangkan. “Image akan fisika itu sulit, fisika itu menakutkan, diharapkan tidak ada. Karena bagaimanapun juga kami sangat berharap pada generasi muda atau penerus bangsa ini untuk dapat mencintai sains dan mencintai fisika. Sehingga nanti dapat turut berkontribusi pada perkembangan teknologi di Indonesia,” ujar Risti. Ira Veratika SN-Humkoler UNPAR

metode pembelajaran fisika yang menyenangkan